Ketua Umum MUI PPU di Masjid Negara: Menjadi Pribadi ‘Rodhiyah Mardhiyah’ Melalui Renungan QS Al-Fajr

whatsapp image 2024 03 10 at 16.32.51 d74e26f1

PENAJAM – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Penajam Paser Utara, KH. Abu Hasan Mubarok, menyampaikan pesan mendalam mengenai penguatan spiritualitas dalam khutbah Jumat di Masjid Negara, Jumat (15/5/2026). Di tengah suasana pengujung bulan Dzulqa’dah, beliau mengajak umat Islam untuk merefleksikan ajaran Surah Al-Fajr guna mencapai derajat jiwa yang tenang (Nafsul Muthmainnah).

Dalam paparannya, KH. Abu Hasan Mubarok menjelaskan bahwa pribadi yang Rodhiyah adalah hamba yang menerima sepenuhnya ketetapan Allah, baik manis maupun pahit. Sementara pribadi Mardhiyah adalah jiwa yang telah merasakan pengampunan dan “stempel” persetujuan dari Allah setelah lulus menjalani ujian kehidupan.

Empat Tuntunan Menuju Jiwa yang Tenang

Berdasarkan tafsir QS Al-Fajr ayat 1-30, terdapat empat poin utama yang ditekankan untuk membentuk karakter muslim yang kokoh:

  1. Rekonstruksi Definisi Kemuliaan: Umat diingatkan untuk berhenti mengukur kecintaan Allah hanya melalui saldo rekening atau fasilitas duniawi. Kekayaan harus dipandang sebagai amanah untuk diuji, sementara kesempitan rezeki adalah bentuk “desain pendidikan” dari Allah, bukan tanda kehinaan.
  2. Mengasah Kepekaan Sosial: Kegagalan mencapai ketenangan jiwa sering kali disebabkan oleh sifat kikir dan egois. Memuliakan anak yatim dan memberi makan orang miskin bukan sekadar konten media sosial, melainkan metode Tahdzibun Nufus untuk menghancurkan berhala “keakuan” dalam diri.
  3. Kesadaran Pengawasan Melekat (Muroqobah): Mengambil ibrah dari hancurnya kaum Ad, Tsamud, dan Fir’aun yang sombong akan kekuatan arsitektur, politik, dan militer mereka. Mereka binasa karena lupa bahwa Allah senantiasa mengawasi (Inna Rabbaka labil mirshod).
  4. Mengambil Pelajaran dari Sejarah: Sumpah Allah dengan waktu (Fajar dan malam) serta hari-hari istimewa merupakan pemantik bagi orang yang berakal untuk tidak mengulangi kesalahan umat terdahulu yang kufur.

Pesan Penutup

Di akhir khutbahnya, KH. Abu Hasan Mubarok mengajak jamaah untuk memanfaatkan sisa bulan mulia ini dengan meningkatkan iman dan takwa. Beliau menekankan bahwa kedekatan dengan kaum yang lemah serta kedermawanan adalah jalan utama membangun kedekatan diri kepada Sang Pencipta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *