Oleh: Redaksi Media MUI PPU
Dalam khazanah spiritual Islam, istilah “zalim” sering kali dikaitkan dengan tindakan merugikan orang lain. Namun, syariat juga mengingatkan adanya bentuk kezaliman yang tidak kalah berbahaya, yaitu kezaliman terhadap diri sendiri (zhulmun nafs).
Mengenai hal ini, Imam Asy-Syafi’i memberikan sebuah untaian hikmah yang sangat presisi dan mendalam sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Manaqib Asy-Syafi’i:
أظْلَمُ الظَّالِمِينَ لِنَفْسِهِ: مَنْ تَوَاضَعَ لِمَنْ لَا يُكْرِمُهُ، وَرَغِبَ فِي مَوَدَّةِ مَنْ لَا يَنْفَعُهُ، وَقَبِلَ مَدْحَ مَنْ لَا يَعْرِفُهُ
“Orang yang paling zalim kepada dirinya sendiri adalah: orang yang merendahkan diri (bertawadhu) kepada orang yang tidak menghargainya, mengharapkan cinta kasih dari orang yang tidak memberikan manfaat kepadanya, dan menerima pujian dari orang yang tidak mengenalnya.”
Nasihat ini merupakan fondasi penting dalam Tahdzibun Nafsi (penyucian jiwa) agar seorang muslim tidak kehilangan martabat (muru’ah) dan kejernihan hatinya. Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai tiga dimensi tersebut:
1. Tawadhu Kepada Orang yang Tidak Memuliakannya
Tawadhu (rendah hati) adalah akhlak yang sangat terpuji dalam Islam. Namun, Imam Asy-Syafi’i mengingatkan bahwa menempatkan tawadhu pada tempat yang salah justru berubah menjadi kehinaan (dzull).
- Penjelasan: Ketika seseorang menurunkan derajatnya di hadapan orang-orang yang angkuh, sombong, atau mereka yang terang-terangan merendahkan syariat dan martabat kemanusiaan, tindakan itu bukan lagi rendah hati, melainkan penghinaan terhadap kehormatan diri yang telah dianugerahkan Allah.
- Solusi Al-Qur’an: Islam mengajarkan kita untuk tegas dan menjaga wibawa di hadapan kesombongan. Para ulama sering menukil kaidah: “Sombong kepada orang yang sombong adalah sedekah.” Tawadhu hanya layak diberikan kepada sesama mukmin yang saling menghargai.
2. Menginginkan Cinta Kasih dari Orang yang Tidak Bermanfaat Baginya
Dimensi kedua ini menyasar pada keterikatan emosional yang sia-sia (ta’alluq). Manfaat yang dimaksud di sini mencakup dua hal: manfaat duniawi yang baik atau manfaat ukhrawi yang mendekatkan diri kepada Allah.
- Penjelasan: Mengemis perhatian, cinta, atau validasi dari manusia yang tidak membawa dampak positif bagi perkembangan mental dan spiritual adalah sebuah kesia-siaan. Tindakan ini hanya akan menguras energi batin dan berujung pada kekecewaan yang mendalam.
- Solusi Al-Qur’an: Alihkan keterikatan hati hanya kepada Allah SWT (Rabbaniyah). Hubungan antar-manusia harus dibangun di atas dasar lillahi ta’ala (karena Allah), di mana kita berkumpul dengan lingkaran sosial yang saling mendukung dalam kesabaran dan kebaikan (QS. Al-Ashr: 3).
3. Menerima Pujian dari Orang yang Tidak Mengenalnya
Di era digital dan media sosial saat ini, dimensi ketiga dari Imam Asy-Syafi’i ini terasa sangat relevan dan kontekstual.
- Penjelasan: Menjadi hal yang naif dan menzalimi diri sendiri ketika kita merasa besar hati, terbang, atau terombang-ambing oleh pujian orang asing (seperti netizen atau khalayak umum) yang tidak mengetahui hakikat diri kita yang sebenarnya. Orang yang tidak mengenal kita hanya memuji “topeng” atau apa yang tampak di permukaan, sementara Allah menutupi aib-aib kita.
- Solusi Al-Qur’an: Pujian dari orang asing sering kali menjadi racun yang menumbuhkan penyakit riya dan ujub (bangga diri). Ketika dipuji, hendaknya kita mengembalikan pujian itu kepada Allah dan berdoa sebagaimana para sahabat: “Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka duga, ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui, dan janganlah Engkau hukum aku karena apa yang mereka ucapkan.”
Kesimpulan: Menjaga Ketenangan Jiwa (Nafsul Muthmainnah)
Menghindari tiga lubang kezaliman ini adalah kunci utama untuk meraih jiwa yang tenang (muthmainnah). Orang yang merdeka adalah mereka yang tidak mendiktekan kebahagiaannya pada penilaian manusia, tidak mengemis kasih sayang pada tempat yang salah, dan tetap memijak bumi ketika badai pujian datang.
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga hati kita dari lingkaran kezaliman terhadap diri sendiri, dan menuntun kita menjadi pribadi yang rida dan diridai-Nya (Rodhiyah Mardhiyah). Wallahu a’lam bish-shawab.
Dapatkan ulasan khazanah keilmuan Islam dan fatwa kontemporer lainnya secara berkala hanya di portal resmi Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Penajam Paser Utara melalui tautan https://muipenajam.or.id.