PENAJAM – Sosok Nabi Ibrahim AS merupakan figur pemimpin umat manusia yang sarat akan keteladanan spiritual, intelektual, hingga pola pengasuhan keluarga. Legitimasi agung ini ditegaskan langsung oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 130, yang menyebutkan bahwa hanya orang yang memperbodoh dirinya sendirilah yang membenci ajaran Nabi Ibrahim.
Pesan mendalam tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Penajam Paser Utara, KH. Abu Hasan Mubarok, dalam naskah khutbah Idul Adha 10 Dzulhijjah 1447 H yang bertajuk “Nabi Ibrahim AS: Pemimpin Manusia Penuh Keteladanan”.
Dalam khutbahnya, KH. Abu Hasan Mubarok menguraikan sedikitnya ada 4 (empat) ajaran inti dari Nabi Ibrahim AS yang patut diimplementasikan oleh setiap muslim dalam kehidupan sehari-hari:
1. Kemurnian Tauhid yang Ikhlas
Ajaran pertama dan paling mendasar adalah ketauhidan yang murni dan lurus (hanif) serta bersih dari kemusyrikan. Bersandar pada pandangan Imam al-Mawardi, istilah hanif dalam rekam jejak Nabi Ibrahim mencakup tiga makna utama: keikhlasan total dalam beribadah semata-mata mengharapkan ridha Allah, komitmen menjalankan rangkaian manasik haji, serta keteguhan untuk selalu lurus di jalan kebenaran.
2. Penggunaan Akal untuk Menetapkan Kebenaran
Nabi Ibrahim AS juga memberikan keteladanan luar biasa dalam hal kematangan berpikir. Beliau memanfaatkan akal sehat secara metodologis untuk mengamati alam semesta—mulai dari pergerakan bintang, bulan, hingga matahari—demi mengonfirmasi kebenaran tentang ketuhanan yang hakiki. Logika berpikir ini jugalah yang membuat beliau memohon diperlihatkan cara Allah menghidupkan makhluk yang mati menggunakan empat ekor burung, bukan karena ragu, melainkan demi mencapai ketenteraman hati (tuma’ninah).
3. Ketaatan Mutlak dan Keluhuran Akhlak
Puncak kepasrahan Nabi Ibrahim diuji ketika beliau menerima perintah untuk menyembelih putra tercintanya, Nabi Ismail AS. Ketundukan tanpa batas ini berbuah manis dengan digantinya sembelihan tersebut dengan seekor hewan sembelihan yang besar.
Selain ketaatan, kepribadian Nabi Ibrahim ditandai dengan keluhuran akhlak. Surah Hud ayat 75 menyematkan tiga sifat utama pada diri beliau:
- Halīm: Sangat penyabar, santun, dan tidak mudah marah.
- Awwāh: Penuh kasih, lembut hati, takut kepada Allah, dan gemar merendahkan diri dalam doa.
- Munīb: Selalu kembali kepada Allah melalui jalan taubat dan ketaatan.
4. Konsistensi Shalat dan Kedalaman Doa
Keteladanan terakhir berpusat pada perhatiannya terhadap ibadah shalat dan kekuatan doa. Melalui untaian doanya yang abadi dalam Al-Qur’an, Nabi Ibrahim memohon agar diri dan keturunannya konsisten menegakkan shalat. Ibadah shalat diletakkan sebagai fondasi utama dalam pendidikan keluarga. Tidak hanya berdoa untuk aspek personal, beliau juga memberikan teladan dengan mendoakan keamanan negeri (Makkah), keberkahan rezeki yang halal, serta ampunan bagi kedua orang tua dan seluruh umat beriman.
Melalui momentum Idul Adha ini, KH. Abu Hasan Mubarok mengajak seluruh jamaah untuk merefleksikan kembali keempat pilar ajaran tersebut. Meneladani Nabi Ibrahim AS bukan sekadar mengenang sejarah masa lalu, melainkan upaya mendidik iman, mewariskan kebaikan bagi keluarga, serta membangun tatanan kehidupan sosial yang penuh kedamaian dan keberkahan.