Oleh: KH. Abu Hasan Mubarok, S.Si. M.Pd
Ketua Umum MUI Kab. Penajam Paser Utara

Soal: Sering kali kami mendengar dalam khutbah jum’at, khatib jum’at menyebutkan nama-nama ahlul bait dan para sahabat (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali), bagaimana pendapat para ulama dan hukum kebiasaan tersebut? Terimakasih atas jawabannya.
Jawaban:
Syakh Dr. Sa’adullah Ahmad ‘Arif al Barzanji (1956-sekrang), salah seorang murid dari Syaikh Abdullah Musthafa bin Bakar bin Muhammad bin Abdullah al Harsyami, seorang faqih, ‘alim, mausu’i, penyair dan ahli Bahasa (1915-2000) memberikan penjelasan dalam fatwanya bahwa penyebuatan nama-nama ahlul bait dan para sahabat dalam khutbah jum’at hukumnya dianjurkan. Berikut penjelasannya.
Dengan menyitir firman Allah swt QS at Taubah ayat 100:
﴿ وَالسّٰبِقُوْنَ الْاَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِاِحْسَانٍۙ رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَاَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ ١٠٠ ﴾
Artinya: 100. Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.
Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam tafsir al qur’an al adzim menggambarkan bagaimana Umar bin Khattab RA ketika mendengar ada seseorang yang membaca ayat ini? Lalu Umar menarik orang tersebut dan bertanya, “siapa yang telah membacakan ayat ini kepadamu? Lalu orang tadi menjawab, “Ubay bin Ka’ab”. Lalu didatanginya Ubay bin Ka’ab RA dan ditanya, “Apakah benar ini diajarkan oleh Rasulullah saw?” lalu Ubay RA menjawab, “betul”. Begitu sangat bersemangat dan memuliakannya Umar bin Khattab RA akan ayat ini dan beliau sangat memahami makna dan maksud dari ayat ini.
Maka tidak heran ketika Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) mengetakan Maka celakalah bagi siapa saja yang membenci mereka atau mencaci mereka, atau membenci atau mencaci sebagian dari mereka, terutama pemimpin para sahabat setelah Rasulullah, yang terbaik dan yang paling utama di antara mereka, yaitu as-Siddiq al-Akbar dan khalifah yang paling agung Abu Bakar bin Abi Quhafah, moga Allah meridainya, karena kelompok yang hina dari kalangan Rafidhah memusuhi sahabat yang paling utama, membenci mereka, dan mencaci mereka, kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut. Dan ini menunjukkan bahwa akal mereka terbalik, dan hati mereka tertutup, maka di manakah posisi mereka dalam keimanan terhadap Al-Qur’an, padahal mereka mencaci orang-orang yang telah Allah ridai?
Dan QS al Fath ayat 18:
﴿ ۞ لَقَدْ رَضِيَ اللّٰهُ عَنِ الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ يُبَايِعُوْنَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ فَاَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ عَلَيْهِمْ وَاَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيْبًاۙ ١٨ ﴾
Artinya: 18. Sungguh, Allah benar-benar telah meridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Nabi Muhammad) di bawah sebuah pohon. Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia menganugerahkan ketenangan kepada mereka dan memberi balasan berupa kemenangan yang dekat
Para fuqaha (secara detail penjelasan setelah ini) sepakat bahwa sangat dianjurkan ketika menyebut nama-nama para sahabat yang mulia dengan mendoakan keridhaan atas mereka.
Al-Allamah Abu Abdullah Muhammad bin Abdurrahman Al-Maghribi Al-Maliki, semoga Allah ‘Azza wa Jalla merahmatinya, menyebutkan bahwa Imam Al-Barzuli berkata: Ibnu Arafah[1] ditanya tentang suatu masalah yang intinya adalah apa hukum seorang khatib salat menyebutkan dalam khotbahnya para sahabat – ridhwanullahi ‘alaihim – dan penguasa – semoga Allah membimbingnya – dan apa pendapat orang yang mengatakan: sesungguhnya hal itu adalah bidah, dan apa pendapat orang yang mengatakan: sesungguhnya hal itu adalah syariat yang tidak boleh diselisihi atau kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan?
Jawabannya adalah kita katakan: adapun anggapan bidah menyebutkan sahabat, maka menurut saya ini adalah hal yang boleh dan baik karena mengandung pengagungan terhadap orang-orang yang secara syariat wajib diagungkan baik secara dalil qath’i maupun logika, terlebih jika hal itu dicampur dengan apa yang mereka lakukan berupa pembelaan terhadap tuan kita Muhammad SAW dan pengorbanan jiwa mereka dalam menampakkan agama). Lihat dalam Mawahib al-Jalil fi Syarh Mukhtashar Khalil (2/165).
Dan Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i, semoga Allah Ta’ala merahmatinya, berkata: Disunahkan mendoakan keridaan (at-taradhi) dan rahmat (at-tarahhum) bagi para sahabat, tabiin, dan orang-orang setelah mereka dari kalangan ulama, ahli ibadah, dan seluruh orang baik, maka diucapkan Radhiyallahu ‘anhu atau Rahmatullah ‘alaihi atau Rahimahullah dan yang serupa dengan itu). Lihat dalam Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab (6/172).
Dan Imam Ibnu Qudamah, semoga Allah ‘Azza Sya’nuhu merahmatinya, berkata: Dan termasuk sunah adalah mencintai para sahabat Rasulullah SAW, mencintai mereka, menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka, mendoakan rahmat bagi mereka, memohonkan ampun untuk mereka, menahan diri dari menyebutkan keburukan mereka dan apa yang terjadi di antara mereka, meyakini keutamaan mereka, serta mengetahui senioritas mereka). Lihat dalam Lum’at al-I’tiqad (hlm: 39).
Dan Imam Az-Zabidi, semoga Allah Jallat Qudratuhu merahmatinya, berkata: Dan menyebutkan Khulafaur Rasyidin secara umum, kedua paman (Hamzah dan Abbas), dua cucu Nabi (Hasan dan Husain), ibu mereka (Fathimah), dan nenek mereka (Khadijah) adalah hal yang baik).
Beliau juga berkata: Maka tidak mengapa memperpanjang penyebutan mereka satu per satu dengan namanya beserta sifat-sifat yang layak bagi mereka, kemudian mengikutsertakan sisa dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga) lihat pada kitab Ithaf al-Sadah al-Muttaqin (3/229).
Dan penyebutan mereka di atas mimbar telah dimulai sejak zaman para sahabat yang mulia, sebagaimana Imam Ibnu Qudamah[2], semoga Allah Ta’ala merahmatinya, menyebutkan dan berkata: Diriwayatkan oleh Dhabba bin Muhshin, bahwa Abu Musa Al-Asy’ari ketika berkhotbah, beliau memuji Allah, menyanjung-Nya, bersalawat kepada Nabi – SAW – kemudian mendoakan Umar dan Abu Bakar. Lalu Dhabba mengingkari tindakannya yang mendahulukan Umar sebelum mendoakan Abu Bakar, dan melaporkan hal itu kepada Umar, maka Umar berkata kepada Dhabba: engkau lebih terpercaya dan lebih terbimbing daripadanya). Lihat dalam kitab Al-Mughni (2/230).
Dan Syaikh Ibnu Taimiyah, semoga Rabb semesta alam Jalla Jalaluhu merahmatinya, berkata: Sesungguhnya penyebutan Khulafaur Rasyidin di atas mimbar-mimbar telah ada sejak zaman Umar bin Abdul Aziz) lihat dalam Minhaj al-Sunnah (4/165).
Dari apa yang telah dijelaskan sebelumnya, tampak jelas bahwa para pendahulu umat ini menganggap baik dan mewariskan tradisi menyebutkan nama para pemimpin kami Khulafaur Rasyidin, keluarga Nabi yang mulia, ibu para mukmin, serta seluruh sahabat semoga Allah meridai mereka hingga hari kiamat, di atas mimbar Rasul penutup para Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarga dan sahabatnya yang diberkati, dalam perkumpulan hari Jumat umat Muslim, agar generasi penerus mengetahui bahwa mereka terhubung dengan generasi pendahulu, dan bahwa umat ini adalah satu, sebagai pembenaran atas firman Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
وصلّى الله تعالى وسلّم على نبيّنا المعظّم، إمام طيبة والحَرم، سيّدنا محمّد المكرّم، وعلى آله وصحبه أهل الجود والكرم.
[1] Adalah seorang ulama besar bernama Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin ‘Arafah al Warghami at Tunisi (716-803 H/1316-1401 M), di antara karyanya adalah al Mukhtashar al fiqhi dalam fiqih al maliki, tafsir ibnu ‘Arafah.
[2] Ibnu Qudamah adalah seorang ulama besar, ahli fikih, dan tokoh mazhab Hanbali yang sangat terkenal. Nama lengkapnya adalah Muwaffaquddin Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudamah Al-Maqdisi al-Jamma’ili ash-Shalihi. Ia lahir di desa Jamma’il, Palestina, pada bulan Sya’ban 541 Hijriah (1147 Masehi) dan wafat pada tahun 620 Hijriah di Damaskus, Suriah.