Oleh: KH. Abu Hasan Mubarok, S.SI. M.Pd
Ketua Umum MUI Kab. Penajam Paser Utara
الحمد لله الخالق لكل مخلوق، جعل الطين يرى و يسمع ويشَمُّ ويذوق، ووهب له العقل وهداه الطاعة والفسوق، وهيَّأ له الرزق وترك له الخيار في البر أو العقوق. وأشهد أن لا إله إلا الله شهادة التيقن والوثوق، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله الصادق المصدوق. اللهم صلِّ وسلِّم وبارك عليه وعلى آله وصحبه، ما دامت الكواكب في سبحها من الغروب إلى الشروق.
فيا أهل الطاعة والتقى أوصيكم ونفسى بتقو الله عز وجل، قال الله تعالى الصادق المصدوق ﴿ وَاِلٰى عَادٍ اَخَاهُمْ هُوْدًاۗ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ ٦٥ ﴾ ( الاعراف/7: 65)
Jamaah sidang solat jum’at yang dimuliakan Allah swt
Keberadaan umat manusia adalah tercatat dengan rapih dalam lembaran-lembaran sejarah. Di antara ummat tersebut, ada yang masih eksis sampai sekarang, adapula yang sudah binasa di telah zaman. Di antara yang diceritakan oleh al qur’an adalah tentang kaum Ad, Tsamud, Iram, dan kaum Hud.
Diriwayatkan dari Abu Bakar as shiddiq RA, suatu ketika beliau bertanya kepada Rasulullah saw:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ شِبْتَ، قَالَ : ” شَيَّبَتْنِي هُودٌ، وَالْوَاقِعَةُ، وَالْمُرْسَلَاتُ، وَعَمَّ يَتَسَاءَلُونَ، وَإِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ ” .
Artinya: wahai Rasulullah? Sungguh engkau telah memutih rambut (uban). Lalu Rasulullah berkata, “telah membuat putih rambutku ini (surat) Hud, Waqi’ah, Mursalat, ‘amma yatasaalaun dan idza syamsu kuwwirot”. HR. Tirmidzi
Imam al Qori, Abdullah bin Muhammad bin Ahmad al Muqri at Tilmisani menjelaskan tentang makna uban dengan tanda-tanda kelemahan telah muncul padamu sebelum waktunya tua, dan yang dimaksud bukanlah munculnya banyak uban padanya.
Sementara Ibnu al Atsir dalam an nihayah fi ghorib al aatsar mengatakan bahwa karena dalam 5 surat ini di dalamnya adalah kehancuran umat-umat.
Sahabat Anas RA menghitung jumlah uban Rasulullah saw tidak kurang dari 14 helai rambut.

Kisah-kisah mereka harus menjadi perhatian dan pengingat untuk kita semuanya umat manusia. Bahwa penguasa utama kisah peradaban ini adalah Allah swt, dan ketundukan kita kepada-Nya akan membawa kita pada keselamatan, sebaliknya keingkaran kita kepada-Nya akan membawa kita pada kebinasaan.
Jamaah yang dimuliakan Allah swt
Perhatikan pada ayat ke-60 dari surat Hud, Allah swt berfirman:
اَلَآ اِنَّ عَادًا كَفَرُوْا رَبَّهُمْ ۗ اَلَا بُعْدًا لِّعَادٍ قَوْمِ هُوْدٍ ࣖ
Artinya: Ingatlah, sesungguhnya (kaum) ‘Ad itu kufur kepada Tuhan mereka. Ingatlah bahwa (kaum) ‘Ad, yakni (kaum) Hud, benar-benar telah binasa.
Ini menjadi pelajaran bersama, bahwa kaum Ad, Tsamud, Hud adalah telah binasa dikarenakan perbuatan dan keingkaran mereka terhadap ketentuan Allah swt.
Sebetulnya mereka adalah bangsa yang memiliki peradaban tinggi, budaya yang maju. Digambarkan bahwa bangsa Ad adalah bangsa yang perkasa, kuat dan pandai dalam hal membuat bangunan yang megah, tinggi. Namun demikian mereka adalah para penyembah berhala dan suka menindas kaum yang lemah. Akhirnya Allah swt binasakan mereka dnegan dikirimnya badai yang sangat dingin dan angina yang kencang selama tujuh malam berturut-turut.
Kaum Tsamud adalah bangsa yang memiliki kecerdasan tinggi dalam hal arsitektur dan teknologi pengairan, mereka mampu memahat gunung batu menjadi istana-istana indah dan megah, lalu Allah swt uji mereka dengan unta betina, namun akhirnya mereka ingkar akan karunia yagn telah Allah berikan keapda mereka, dan Allah pun ganjar mereka dnegan suara yang menggelegar.
Jamaah sidang solat jum’at yang dimuliakan Allah swt
Perhatikan kisah akhir dunia ini dalam surat al waqi’ah:
﴿إِذَا وَقَعَتِ ٱلۡوَاقِعَةُ ١ لَیۡسَ لِوَقۡعَتِهَا كَاذِبَةٌ ٢ خَافِضَةࣱ رَّافِعَةٌ ٣ إِذَا رُجَّتِ ٱلۡأَرۡضُ رَجًّا ٤ وَبُسَّتِ ٱلۡجِبَالُ بَسًّا ٥ فَكَانَتۡ هَبَاۤء مُّنۢبَثًّا ٦
Apabila terjadi hari Kiamat (yang pasti terjadi), tidak ada seorang pun yang (dapat) mendustakan terjadinya. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain). Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya. dan gunung-gunung dihancurkan sehancur-hancurnya, jadilah ia debu yang beterbangan.
Ini adalah penggambarkan pemandangan hari kiamat dengan jelas dan sebagian umat manusia yang sedang dilanda atau telah merasakan peperangan, akan merasakan bahwa kehancuran itu nyata dan memang demikian.
Maka sesudah hal itu terjadi, manusia terbagi menjadi tiga golongan saja:
وَكُنتُمۡ أَزۡوَاجًا ثَلَـٰثَة
Dan kamu menjadi tiga golongan.
Mereka adalah; 1) orang-orang yang terdepan, 2) golongan kanan, dan 3) golongan kiri.
Hanya tiga kelompok itulah pilihan kita, tidak ada pilihan lain, sebagaimana ketika kita hidup di dunia memiliki banyak pilihan.
Surah ini menyerukan agar tolok ukur keutamaan adalah amal saleh, bukan harta atau kedudukan, karena hisab pasti akan terjadi. Salah satu pelajarannya adalah mengukuhkan keyakinan akan akhirat, dan bahwa dunia adalah fase yang singkat dan keselamatan terkait dengan penyucian diri dan iman.
Jadilah golongan yang terdepan, atau paling tidak golongan kanan.
﴿ فَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ بِيَمِيْنِهٖۙ ٧ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَّسِيْرًاۙ ٨ وَّيَنْقَلِبُ اِلٰٓى اَهْلِهٖ مَسْرُوْرًاۗ ٩ ﴾ ( الانشقاق/84: 7-9)
Adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya, 8. dia akan dihisab dengan pemeriksaan yang mudah. 9. dan dia akan kembali kepada keluarganya (yang sama-sama beriman) dengan gembira. (Al-Insyiqaq/84:7-9)
Jamaah yang dimuliakan Allah swt
Ketika Al-Mursalat menegaskan terjadinya hari kiamat dan balasan melalui sumpah demi angin yang diutus, dan menunjukkan akibat pendustaan para pendusta dibandingkan dengan hasil ketaatan orang-orang beriman. Maka surat an Naba dan at Takwir, menjelaskan tentang “berita besar” yaitu kebangkitan dan hari kiamat, maka surah ini menjawab orang-orang yang mengingkarinya melalui pertanyaan-pertanyaan retoris dan bukti-bukti kosmik. Diakhiri dengan penetapan nasib manusia pada hari kiamat: balasan bagi orang-orang beriman dan balasan bagi para pendusta.