Kisah Nabi Yusuf dan Pelajaran Kehidupan

Oleh: KH. Abu Hasan Mubarok

Naskah khutbah Jum’at disampaikan Jum’at, 27  Maret 2026

الحَمْدُ لِلهِ، الحَمْدُ لِلهِ اَلَّذِي أَنْزَلَ القُرْآنُ عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ، سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الذَّى يَقُصُّ عَلَيْنَا أَحْسَنَ القَصَصِ وَحيّاً لِتَكُونَ دَرْسًا وَعِبْرَةً ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَريكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسولُهُ المَبْعوثُ رَحْمَةٌ . اللَّهُمَّ صَلَّ عَلَى سَيِّدِنا وَنَبيِّنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا مُحَمَّدٍ فَى العالَمينَ إِنَّكَ حَميدٌ مَجيدٌ ، أَمَّا بَعْدُ:

فيا أيها المؤمنون المتقون، أوصى نفسى وإياكم بتقوى الله عز وجل، قال الله تعالى فى القرآن الكريم (( یُرِیدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡیُسۡرَ وَلَا یُرِیدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ وَلِتُكۡمِلُوا۟ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ))

Jamaah kaum Muslimin sidang solat jum’at yang dimuliakan Allah swt

Segala puji milik Allah swt, pemilik sifat-sifat kemuliaan dan keagungan. Sholawat dan salam semoga senantiasa terhatur kepada Nabi Besar Muhammad saw beserta keluaga, sahabat dan para pengikut sampai akhir zaman.

Selanjutnya, khatib berpesan pada diri dan kepada jamaah sekalian. Marilah kita tingkatkan iman dan takwa kepada Allah swt dengan sepenuh hati dan kejujuran. Katakanlah,

Jamaah kaum Muslimin sidang jumat yang dimuliakan Allah swt

19d8111e78d2d

Telah sepekan kita meninggalkan bulan suci Ramadhan, waktu berlalu tanpa terasa. Kenangan keberkahan dan aktifitas peribadatan di bulan suci Ramadhan telah membekas pada sanu bari kita, dan semoga ampunan Allah swt telah kita raih bersama-sama.

Sulthanul aulia, Syaikh Abdul Qodir al Jailani dalam al Ghunnyah disebutkan bahwa hari raya bukanlah pakaian baru, makanan lezat, konsumsi yang mewah, dan segala jenis kelezatan, hari raya adalah hari indicator akan penerimaan dan ketaatan, dihapuskannya dosa dan keburukan, perubahan dari perilaku buruk menjadi baik.

Jamaah kaum Muslimin sidang solat jum’at yang dimuliakan Allah swt

Sekarang kita sedang berada di kondisi yang selalu berubah dan super dinamis. Dulu orang berpihak kepada kebenaran, sekarang orang menjauh dari kebenaran, karena kepentingan.

Saat ini, kita bisa ruku’, duduk dan sujud Bersama-sama di masjid agung ini. Tapi tahukan saudara-saudara seiman sekalian, bahwa sudah lebih dari 20 hari, masjidil aqsha tertutup bagi umat Islam semuanya, qiblat pertama umat Islam, tempat tersuci ke-3 bagi umat Islam tidak ada aktifitas apapun, sampai detik ini.

Tantangan sunggu luar biasa, kemampuan sudah terukur akan keterbatasannya. Namun, hidup ini tetap harus berjalan. Untuk itu, mari kita renungkan bersama kisah Nabi Yusuf AS pada salah satu episodenya.

لَقَدۡ كَانَ فِی قَصَصِهِمۡ عِبۡرَةࣱ لِّأُو۟لِی ٱلۡأَلۡبَـٰبِۗ مَا كَانَ حَدِیثࣰا یُفۡتَرَىٰ وَلَـٰكِن تَصۡدِیقَ ٱلَّذِی بَیۡنَ یَدَیۡهِ وَتَفۡصِیلَ كُلِّ شَیۡءࣲ وَهُدࣰى وَرَحۡمَةࣰ لِّقَوۡمࣲ یُؤۡمِنُونَ

Artinya: Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal sehat. (Al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, melainkan membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Imam al Qurthubi (w. 671 H) ketika menjelaskan makna ‘ibroh adalah dengan tiga makna, yaitu: pemikiran, pengingat dan nasehat. Ketiga makna ini hanya dapat dicerna, dipahami oleh orang-orang yang memiliki kualita ulul albab. Yaitu mereka yang berakal sehat, akal digunakan untuk memahami apa yang terbaik bagi kepentingan agama mereka.

Jamaah kaum Muslimin sidang solat jum’at yang dimuliakan Allah swt

Coba renungkan ayat di berikut ini.

قَالَ رَبِّ ٱلسِّجْنُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا يَدْعُونَنِىٓ إِلَيْهِ ۖ

Artinya: Yusuf berkata, “Wahai tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajaran mereka kepadaku”.

Imam Qurthubi menjelaskan bahwa dihukum dan dipenjara lebih mudah bagi Yusuf AS dibandingkan harus jatuh pada kema’siatan dan perbuatan keji.

Bahwa mempertahankan kebenaran, sekalipun banyak resiko yang akan dihadapinya. Itu jauh lebih baik daripada harus terjerembab pada perbuatan keji dan kemungkaran. Tentu ini sangat berat kecuali bagi orang-orang yang Allah swt berikan keimanan dan keteguhan hati yang baik.

Poin pentingnya adalah keimanan yang menghujam di hati sebagai pondasi kuat dalam menghadapi kenyataan hidup yang penuh dinamika.

Mari kita lihat secara jelas, bagaimana perjalanan Nabi Yusuf AS yang telah “dijatuhkan” ke dalam gelap dan pengapnya penjara, ke tempat yang tinggi dan mulia.

Suatu ketika, penguasa Mesir, Hexos sedang memikirkan akan masa depan negerinya yang selalu datang digambarkan dalam mimpi-mipinya. Bahwa dalam mimpinya dia (Hexos) diperlihatkan akan keadaan yang baik dan keadaan yang buruk.

وَقَالَ ٱلْمَلِكُ إِنِّىٓ أَرَىٰ سَبْعَ بَقَرَٰتٍۢ سِمَانٍۢ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌۭ وَسَبْعَ سُنۢبُلَـٰتٍ خُضْرٍۢ وَأُخَرَ يَابِسَـٰتٍۢ ۖ

Artinya: Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya), “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering”.

Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) menjelaskan bahwa penguasa Mesir menjadi kebingungan dengan penglihatan masa depan negerinya melalui mimpinya tersbeut. Lalu, dia mengumpulkan para peramal, dan pembesar negaranya untuk menanyakan kepada mereka tentang makna mimpinya tersebut. Alih-alih mendapatkan jawaban yang menenangkan, justru mereka malah mengatakan

قَالُوۤا۟ أَضۡغَـٰثُ أَحۡلَـٰمࣲۖ

Artinya: mereka berkata, “ini adalah mimpi-mimpi yang kacau”.

Imam al Baghowi mengatakan mimpi yang campur aduk, mimpi yang meragukan, halusinasi.

Jamaah kaum Muslimin sidang jumat yang dimuliakan Allah swt

Dengan bekal keimanan yang kuat dan kokoh, kesabaran, ketabahan, Yusuf AS menjelaskan arti mimpinya ini kepada sang penguasa, bahwa sapi-sapi gemuk dan bulir-bulir hijau: itu adalah tujuh tahun kesuburan, dan sapi-sapi kurus serta bulir-bulir kering itu adalah tahun-tahun paceklik.

Kerajaan dan masyarakatnya akan menghadapi tujuh tahun masa kesuburan dan tujuh tahun masa kekeringan. Oleh karenanya, Yusuf AS memberikan saran kepada penguasa tersebut agar terus menanam selama 7 tahun sebagaimana kebiasaan masa tanam, hasil tanamannya disimpan dengan baik, dan sebagian kecil hasilnya dijadikan makanan/kebutuhan dasar.

Kita semua tidak tahu akan masa depan kita, masa depan bangsa ini. Namun demikian, isyarat-isyarat akan tantangan global, ketersediaan pangan dan energi dan lain-lain adalah hal yang harus terus dijaga dan disamping untuk dikonsumsi. Maka dari kisah Yusuf AS ini, pelajaran penting bagi kita agar memperkokoh keimanan kepada Allah swt, bahwa hidup ini adalah Allah yang telah menciptakan, mengatur, mengendalikan, menentukan awal dan akhir kisahnya. Jangan sampai kita terperdaya oleh kekuatan-kekuatan yang nampaknya kuat, kokoh, namun sejatinya rapuh dan roboh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *