Oleh: mediamuipenajam@gmail.com
Islam bersifat moderat dalam akhlak, berada di antara kaum idealis ekstrem yang membayangkan manusia sebagai malaikat atau semacam malaikat, sehingga mereka menetapkan nilai-nilai dan etika yang tidak mungkin dicapai oleh manusia, dan kaum realis ekstrem yang menganggapnya sebagai hewan atau seperti hewan, sehingga mereka menginginkan perilaku yang tidak pantas baginya.
Kaum idealis berprasangka baik terhadap fitrah manusia, menganggapnya murni kebaikan, sedangkan kaum realis berprasangka buruk terhadapnya, menganggapnya murni kejahatan. Pandangan Islam berada di tengah-tengah antara keduanya.
Dalam pandangan Islam, manusia adalah makhluk yang kompleks, memiliki akal dan syahwat, memiliki naluri hewan dan spiritualitas malaikat. Ia telah ditunjukkan dua jalan, dan fitrahnya telah disiapkan untuk menempuh salah satu dari dua jalan tersebut, baik bersyukur maupun kufur.
Manusia memiliki potensi untuk berbuat maksiat sebagaimana ia memiliki potensi untuk bertakwa. Tugasnya adalah memerangi dirinya sendiri dan melatihnya hingga menjadi suci:
(وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (٧) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (٨) قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (٩) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (١٠))
(Dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, (7) maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, (8) sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), (9) dan sungguh merugi orang yang mengotorinya. (10))
Sumber: