Khutbah Jumat Ketua Umum MUI PPU: Istigfar Sebagai Kunci Pembuka Problematika Kehidupan

PENAJAM – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Penajam Paser Utara, KH. Abu Hasan Mubarok, S.SI. M.Pd., mengingatkan umat Islam tentang besarnya kekuatan ampunan Tuhan dalam khutbah Jumat yang mengangkat tema “Keutamaan Istigfar”. Pesan keagamaan ini disampaikan di hadapan para jamaah yang memadati Masjid al Islamiyah di Kilo 2.

Mengawali khutbahnya, KH. Abu Hasan Mubarok berpesan agar jamaah senantiasa meningkatkan ketakwaan, dengan menyadari bahwa segala rezeki, penglihatan, dan pendengaran manusia sepenuhnya adalah milik Allah SWT, Sang Penguasa dan Pengatur alam raya. Beliau kemudian menggarisbawahi bahwa istigfar memiliki keutamaan luar biasa, salah satunya sebagai penahan turunnya azab.

Merujuk pada Al-Qur’an Surah Al-Anfal ayat 33, ditegaskan bahwa Allah sekali-kali tidak akan mengazab suatu kaum selama mereka senantiasa memohon ampunan-Nya. Mengutip penjelasan Imam Fakruddin ar Razi, KH. Abu Hasan Mubarok memaparkan tiga makna mendalam dari ayat tersebut:

  • Azab tidak akan diturunkan kepada orang-orang kafir selama di tengah-tengah lingkungan mereka masih ada orang-orang mukmin yang memohon ampun kepada Allah.
  • Allah menahan azab karena dalam keilmuan-Nya, diketahui kelak dari mereka akan lahir generasi atau anak-anak keturunan yang beriman dan senantiasa beristigfar.
  • Ayat ini berfungsi sebagai pendorong kuat agar manusia menyibukkan diri dengan istigfar, sebab jika mereka beristigfar, niscaya Allah tidak akan menjatuhkan azab.

Tidak hanya untuk menebus dosa yang terlihat, permohonan ampun juga esensial dalam setiap ibadah. KH. Abu Hasan Mubarok mengingatkan bahwa seringkali amalan yang niat awalnya untuk mendekatkan diri kepada Allah justru tersusupi oleh titik-titik niat yang merusak, seperti pamer atau keinginan untuk dikenal. Oleh karena itu, setiap amalan yang wujudnya berupa ketaatan sekalipun harus tetap diiringi dengan istigfar.

Di hadapan jamaah, beliau juga membacakan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari sahabat Anas bin Malik RA yang menggambarkan luasnya kasih sayang Allah. Dalam hadis tersebut dinyatakan bahwa betapapun besarnya dosa manusia—bahkan jika dosa itu menyundul setinggi awan di langit atau memenuhi seluruh bumi—Allah akan tetap mengampuninya. Syaratnya, hamba tersebut mau berdoa, berharap pengampunan, dan menemui Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

Sebagai penutup, KH. Abu Hasan Mubarok mengajak umat untuk memperbanyak istigfar dan menggantungkan harapan hanya kepada Allah SWT. Beliau menekankan bahwa kedua hal ini merupakan kunci utama yang akan membimbing manusia dalam mengarungi kehidupan dan membuka segala problematika yang dihadapi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *