Khutbah Jumat Ketum MUI PPU: Mengenal Keutamaan Hari Tasyriq, Hari Makan, Minum, dan Berdzikir

PENAJAM – Hari Raya Idul Adha tidak hanya berfokus pada momentum penyembelihan hewan kurban di tanggal 10 Dzulhijjah. Umat Islam saat ini masih berada dalam rangkaian hari raya yang agung, yaitu Hari Tasyriq yang jatuh pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

Pesan mendalam mengenai pentingnya mengoptimalkan hari-hari mulia ini disampaikan oleh Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), KH. Abu Hasan Mubarok, dalam naskah khutbah Jumat bertajuk “Hari Tasyriq: Keutamaan & Adab-Adabnya”.

Asal-Usul Nama dan Keutamaan Hari Tasyriq

Dalam khutbahnya, KH. Abu Hasan Mubarok menjelaskan secara historis mengapa hari-hari tersebut dinamakan Tasyriq. Istilah ini merujuk pada tradisi masa lalu di mana setelah menyembelih hewan kurban, orang-orang memotong daging dan menjemurnya di bawah terik matahari agar kering dan tidak rusak.

Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis riwayat sahabat ‘Uqbah bin ‘Amir menegaskan kedudukan hari-hari ini:

“Hari Arafah, hari Nahar (Idul Adha), dan hari-hari Tasyriq adalah hari raya bagi kita umat Islam, dan hari raya ini adalah hari makan dan minum.”

Selain itu, hari-hari ini juga disebut sebagai Yaum Qorr (hari berdiam). Merujuk penjelasan para ulama, Yaum Qorr adalah hari esok setelah Idul Adha di mana para jemaah haji menjadi tamu Allah yang berdiam di Mina untuk menyempurnakan dan menyelesaikan rangkaian ibadah haji mereka.

Perpaduan Nikmat Badan dan Nikmat Hati

KH. Abu Hasan Mubarok memaparkan bahwa pada Hari Tasyriq berkumpul dua kebahagiaan besar, yaitu nikmat badan dan nikmat hati. Nikmat badan diwujudkan melalui anjuran untuk makan dan minum, sehingga umat Islam secara tegas dilarang berpuasa pada hari-hari ini. Di sisi lain, nikmat hati dirasakan melalui aktivitas memperbanyak zikir dan syukur kepada Allah SWT.

“Berdzikir hendaknya merenungkan apa yang diucapkan dan memahami maknanya, karena hal itu lebih mendorong kekhusyukan dan kebaikan hati,” terang Ketum MUI PPU menyitir pandangan Ibnu Al-Qayyim bahwa zikir paling utama adalah yang menyelaraskan antara hati dan lisan.

Panduan Ibadah Jemaah Haji di Mina

Bagi jemaah haji yang berada di Mina, Hari Tasyriq diisi dengan aktivitas melempar jumrah serta pilihan untuk mengambil Nafar Awal atau Nafar Tsani.

  • Nafar Awal: Pilihan bagi jemaah yang meninggalkan Mina lebih awal pada tanggal 12 Dzulhijjah setelah menyelesaikan lontar jumrah, dengan syarat harus keluar dari Mina sebelum matahari terbenam.
  • Nafar Tsani: Pilihan bagi jemaah yang memilih menetap dan menyelesaikan seluruh lontaran jumrah hingga tanggal 13 Dzulhijjah.

Di akhir khutbah, KH. Abu Hasan Mubarok mengingatkan masyarakat agar dalam merayakan Hari Tasyriq dengan makan dan minum, jangan sampai terjerumus pada batas pemborosan, penghamburan, ataupun meremehkan nikmat yang telah Allah berikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *