Oleh; redaksi muipenajam.or.id
Syi’ir atau puisi dalam tradisi sastra Arab bukan sekadar untaian kata indah penyejuk telinga. Ia sering kali menjadi manifesto sosial, kritik budaya, sekaligus kompas moral bagi zamannya. Salah satu karya monumental yang tak lekang oleh waktu adalah syi’ir berjudul “Tarbiyatul Banat” (Mendidik Anak-Anak Perempuan) yang digubah oleh Hafez Ibrahim (1872–1932), seorang penyair besar asal Mesir yang dijuluki Sya’irun Nil (Penyair Sungai Nil).

Melalui bait-baitnya yang tajam namun indah, Hafez Ibrahim membedah akar keterpurukan bangsa Timur pada masanya dan menawarkan solusi konkret: pendidikan kaum perempuan. Artikel ini akan mengupas tuntas isi dan pesan mendalam yang terkandung dalam syi’ir tersebut.
1. Ibu sebagai Fondasi Utama Peradaban (Madrasatul Ula)
Bagian paling ikonik dari syi’ir ini terletak pada bait kedua:
“Al-Umu madrasatun, idza a’dadtaha… A’dadte sya’ban thayyibal a’raq.”
(Ibu adalah sebuah madrasah. Jika engkau mempersiapkannya dengan baik, maka engkau telah mempersiapkan sebuah bangsa yang baik budi pekertinya.)
Hafez Ibrahim dengan cerdas menyamakan sosok ibu dengan madrasah (sekolah). Ibu adalah tempat pemberhentian pertama seorang anak manusia dalam menyerap nilai-nilai kehidupan, bahasa, karakter, dan agama.
Melalui analogi taman (rowdh) pada bait berikutnya, ia menegaskan bahwa seorang ibu yang terdidik dan dirawat dengan ilmu laksana taman subur yang disiram hujan rimbun. Dari rahim dan asuhan ibu yang cerdaslah akan lahir para pemimpin, ulama, dan pemikir besar yang rekam jejaknya menggetarkan dunia. Sebaliknya, mengabaikan pendidikan perempuan sama saja dengan menanam benih kehancuran bagi masa depan bangsa.
2. Kritik Terhadap Dua Kutub Ekstrem
Hal yang membuat syi’ir tarbiyatul banat ini begitu luar biasa adalah sikap objektif dan kedewasaan berpikir sang penyair. Hafez Ibrahim tidak terjebak dalam arus modernisasi buta, tidak pula mendukung tradisi kolot yang mengekang. Ia mengkritik dua kutub ekstrem yang berkembang di masyarakat:
A. Kutub Kebebasan yang Kebablasan (Syafiraat)
Pada bait ke-5 hingga ke-8, penyair menegaskan bahwa ia tidak mendukung gerakan feminisme radikal atau modernisasi ala Barat yang mencabut perempuan dari fitrahnya. Ia menolak konsep perempuan yang sengaja melepas hijabnya (sawafira), bersolek berlebihan, dan hilir mudik di pasar tanpa urgensi, hingga meniru-niru perilaku lelaki dan melupakan tugas domestik mereka.
Bagi Hafez, menjaga rumah tangga dan mendidik anak bukan tugas yang remeh. Keberhasilan wanita di dalam rumahnya setara dengan kehebatan para ksatria yang memegang pedang dan tombak di medan perang.
B. Kutub Pengekangan yang Ekstrem (Al-Jumud)
Di sisi lain, pada bait ke-9 hingga ke-12, Hafez berbalik mengkritik keras tradisi patriarki kolot yang mengurung perempuan dalam kebodohan. Ia menegaskan: “Wanita kalian bukanlah perhiasan atau perabot rumah tangga!”
Perempuan bukanlah barang antik yang hanya disimpan di dalam kotak perhiasan atau dipajang di sudut rumah karena takut hilang. Ketika zaman terus berubah, melahirkan peradaban-peradaban baru (tatasyaqqalul azman), sungguh ironis jika kaum perempuan dibiarkan tetap dalam kejumudan, buta huruf, dan tidak tahu perkembangan dunia.
3. Solusi Emas: Jalan Tengah (Al-Wasathiyyah) dan Akhlak Mulia
Sebagai penutup syi’ir, Hafez Ibrahim menawarkan jalan keluar yang sangat bijaksana, yaitu moderat (jalan tengah).
“Fatawassathuu fil haalataini wa ansifuu… Fasy-syarru fit-taqyiidi wal ithlaaqi.”
(Maka ambillah jalan tengah di antara kedua kondisi tersebut dan berlakulah adil, karena keburukan itu ada pada pengekangan yang ekstrem maupun kebebasan yang kebablasan.)
Mengurung perempuan hingga bodoh adalah keburukan, dan membebaskan perempuan hingga kehilangan rasa malu juga adalah bencana. Kunci utama untuk menjaga keseimbangan ini adalah pendidikan berbasis keutamaan akhlak (al-fadhilah) dan cahaya petunjuk agama (nurul huda).
Jika seorang perempuan dibekali ilmu pengetahuan yang luas, dibimbing dengan syariat agama, serta dibentengi dengan rasa malu (al-haya’) yang menjadi mahkotanya, maka ke mana pun ia melangkah—baik menjadi ibu rumah tangga maupun berkarier di ranah publik—ia akan tetap menjadi tiang negara yang kokoh.
Kesimpulan
Syi’ir Tarbiyatul Banat adalah sebuah pengingat abadi bagi kita semua. Hafez Ibrahim berhasil merangkum konsep emansipasi wanita yang bermatabat. Menyelamatkan perempuan dengan pendidikan yang layak bukan hanya sekadar memberikan hak individu kepada mereka, melainkan sebuah investasi besar untuk menyelamatkan peradaban sebuah bangsa. Karena dari tangan-tangan ibu yang cerdas dan berakhlak mulia, masa depan dunia ini dipertaruhkan.