Membangun Budaya Literasi sebagai Fondasi Generasi Berpikir Kritis

Oleh: Setiawan Misbahul Lail, M.Pd

Pengajar SMK Muhammadiyah, Tim Halal MUI PPU

Ada yang menarik dari pilihan wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Bukan perintah shalat, bukan larangan keras, bukan pula aturan sosial. Yang pertama turun adalah satu kata: Iqra’. Bacalah.

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ ۚ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ ۚ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُ ۙ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ۙ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5)

Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menegaskan bahwa perintah Iqra’ bukan semata instruksi melisankan huruf. Ia adalah perintah untuk memahami, menelaah, dan mengambil hikmah — dengan landasan nama Allah, bukan untuk kepentingan diri sendiri semata. Kata Iqra’ disebut dua kali dalam lima ayat pertama ini; seolah Al-Qur’an menegaskan bahwa membaca satu kali saja tidak cukup.

Di sinilah letak ambisi peradaban Islam yang sering terlupakan. Ketika Eropa masih dalam abad kegelapan, perpustakaan Baghdad, Kairo, dan Cordoba menjadi pusat ilmu dunia. Itu bukan kebetulan — itu adalah buah dari budaya Iqra’ yang dihidupkan secara sungguh-sungguh oleh generasi awal Muslim.

Literasi dan Tantangan Umat di Era Digital

Ironisnya, umat yang menerima wahyu pertama berupa perintah membaca ini kini menghadapi krisis literasi yang serius. Berbagai survei menempatkan Indonesia pada peringkat yang memprihatinkan dalam hal minat baca, sementara konsumsi konten digital terus melonjak. Artinya, kita membaca lebih banyak dari sebelumnya — tetapi yang dibaca sebagian besar adalah konten singkat, instan, dan sering kali belum terverifikasi.

Hoaks menyebar lebih cepat dari klarifikasinya. Disinformasi bergerak dari satu grup WhatsApp ke grup lain dalam hitungan menit. Yang memprihatinkan, banyak konten disebarkan tanpa sempat dibaca tuntas, apalagi diverifikasi kebenarannya.

Islam sebenarnya sudah menyediakan jawaban untuk tantangan ini jauh sebelum era digital lahir. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 6, Allah memerintahkan tabayyun — sikap verifikasi sebelum meneruskan sebuah informasi. Tabayyun bukan sekadar kehati-hatian; ia adalah bentuk tanggung jawab seorang muslim terhadap kebenaran dan terhadap orang lain yang mungkin terdampak informasi yang ia sebarkan.

Yang perlu ditegaskan: berpikir kritis dalam Islam bukan berarti mempertanyakan segala sesuatu tanpa batas. Ia selalu berjalan beriringan dengan adab — adab terhadap ilmu, adab terhadap ulama, dan adab terhadap kebenaran itu sendiri. Inilah yang membedakannya dari skeptisisme tanpa arah.

Menghidupkan Semangat Iqra’ dalam Kehidupan

Budaya literasi tidak tumbuh sendiri. Ia dibangun — di rumah ketika orang tua membacakan buku untuk anaknya, di ruang kelas ketika guru mengajak murid berdiskusi bukan sekadar menghafal, di masjid ketika kajian diisi dengan telaah yang mendalam bukan sekadar ceramah hiburan.

Peran setiap komponen masyarakat tidak bisa digantikan. Keluarga adalah madrasah pertama; anak yang terbiasa melihat orang tuanya membaca akan jauh lebih mudah membangun kebiasaan yang sama. Sekolah dan guru memiliki tanggung jawab menumbuhkan rasa ingin tahu, bukan hanya mengejar nilai ujian. Dan masjid — yang dalam sejarah Islam pernah menjadi pusat keilmuan — perlu kembali mengambil peran itu.

Soal teknologi dan kecerdasan buatan: ia adalah alat, bukan tujuan. AI bisa membantu mencari informasi lebih cepat atau merangkum teks panjang. Tetapi proses berpikir, menimbang, memilah, dan mengambil kesimpulan — itu tetap tugas manusia yang tidak bisa didelegasikan kepada mesin. Generasi yang hanya mengandalkan AI tanpa melatih kemampuan berpikirnya sendiri sedang membangun fondasi yang rapuh.

Penutup

Kemajuan umat tidak semata ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang dimiliki, tetapi oleh seberapa kuat budaya ilmu yang menopangnya. Sejarah membuktikan hal ini berulang kali: peradaban yang besar selalu bermula dari tradisi membaca, bertanya, dan berpikir yang hidup di tengah masyarakatnya.

Perintah Iqra’ yang turun empat belas abad lalu masih sama aktualnya hari ini. Di tengah banjir informasi yang deras dan godaan konten instan yang tiada henti, menghidupkan kembali semangat Iqra’ berarti memilih untuk berhenti sejenak — membaca dengan teliti, berpikir dengan jernih, dan menyebarkan hanya yang sudah diyakini kebenarannya.

Itu bukan hanya sikap intelektual. Dalam Islam, itu adalah ibadah.

رَبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا

Rabbi zidnii ‘ilmaa.

“Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” (QS. Thaha: 114)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *