Oleh: Tim Editorial Media MUI Penajam
Dalam kehidupan yang serba cepat ini, seringkali kita terjebak dalam pengejaran duniawi yang tak berujung. Sebagai pengingat untuk menata kembali niat dan cara pandang kita. disebutkan dalam kitab al Kamil fi al Lughoh wal Adab karya Abu Abbas Muhammad bin Yazid bin Abdul Akbar atau yang lebih dikenal dengan al Mubarrod (826-898 M) sebuah nasihat agung dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra berikut ini:
وقال رجل لعلي بن أبي طالب رحمة الله عليه١ وهو في خطبته٢: يا أمير المؤمنين، صف لنا الدنيا، فقال: ما أصف من دار أولها عناء، وآخرها فناء، في حلالها حساب، وفي حرامها عقاب، من صح فيها أمن، ومن مرض فيها ندم، ومن استغنى فيها فتن، ومن افتقر فيها حزن.
Saat seseorang bertanya kepadanya, “Sifatilah dunia untuk kami wahai Amirul Mukminin,” Sayyidina Ali menjawab dengan sangat filosofis: “Apa yang harus aku sifatkan dari negeri yang awalnya adalah kelelahan (kesukaran), dan akhirnya adalah kefanaan? Dalam halalnya ada hisab (perhitungan), dan dalam haramnya ada siksa. Barangsiapa yang merasa cukup (kaya) di dalamnya, ia akan terkena fitnah, dan barangsiapa yang merasa fakir (kekurangan) di dalamnya, ia akan bersedih.”
Penjelasan dan Realita Kehidupan
Mari kita bedah poin demi poin dari pesan tersebut agar relevan dengan kehidupan kita saat ini, bahwa dunia adalah
- “Awalnya kesukaran, akhirnya kefanaan”: Sejak lahir hingga tumbuh dewasa, manusia berjuang keras untuk bertahan hidup, belajar, dan bekerja. Namun, sekeras apa pun kita mengejarnya, dunia ini pasti akan berakhir dan kita akan meninggalkannya.
- Contoh: Seseorang menghabiskan puluhan tahun membangun bisnis atau karier dengan memeras keringat, namun saat ajal menjemput, semua itu tidak bisa ia bawa serta.
- “Halalnya ada hisab, haramnya ada siksa”: Harta dunia bukan sekadar sarana, melainkan tanggung jawab.
- Contoh: Harta yang halal menuntut kita untuk mengeluarkan zakat, infak, dan menggunakannya di jalan kebaikan. Semuanya akan dimintai pertanggungjawaban. Apalagi harta yang diperoleh dengan cara yang haram, tentu akan berujung pada siksa.
- “Yang kaya terkena fitnah, yang fakir bersedih”: Ini adalah paradoks dunia.
- Contoh: Mereka yang memiliki banyak harta sering diuji dengan kesombongan, lalai dari ibadah, atau terjebak dalam gaya hidup hedonis (fitnah kekayaan). Sebaliknya, mereka yang kekurangan sering kali merasa putus asa, tidak bersyukur, atau berkecil hati melihat pencapaian orang lain (kesedihan kefakiran).
Kalam Ulama sebagai Penyejuk Hati
Agar hati kita tetap teguh dan tidak terombang-ambing oleh tipu daya dunia, berikut adalah untaian nasihat dari para ulama:
“Dunia ini bagaikan bayangan. Jika engkau berusaha menangkapnya, ia akan lari. Namun, jika engkau membelakanginya, ia tak punya pilihan selain mengikutimu.” — Ibnu Qayyim al-Jauziyyah
“Jadikanlah duniamu di tanganmu, bukan di hatimu. Jika ia berada di tangan, ia mudah dilepaskan. Jika ia berada di hati, ia akan menyakitimu saat harus berpisah.” — Hasan al-Bashri
“Zuhud bukanlah dengan mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta, melainkan dengan meyakini apa yang ada di tangan Allah lebih menenangkan daripada apa yang ada di tanganmu sendiri.” — Umar bin Abdul Aziz