Ikhas sebagai Roh dan Penentu Amal

Oleh: redaksi muipenajam.or.id

“إنَّ كَثْرَةَ الطَّاعَاتِ وَلَوْ كَانَتْ تُشَكِّلُ جِبَالاً عَالِيَةً رَاسِيَةً سَتَذْهَبُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَدْرَاجَ الرِّيَاحِ، إِنْ لَمْ تَكُنْ رَاسِخَةً عَلَى جُذُورٍ أَصِيلَةٍ هِيَ الإِخْلَاصُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.”

الإمام الشهيد محمد سعيد البوطي

“Sesungguhnya banyaknya amal ketaatan, meskipun ia membentuk gunung-gunung yang tinggi lagi kokoh, akan lenyap ditiup angin pada hari kiamat kelak, jika amal tersebut tidak berakar kuat pada fondasi yang murni (asli), yaitu keikhlasan karena Allah ‘Azza wa Jalla.”

Al-Imam Al-Syahid Muhammad Said Ramadan al-Buthi

1. Hakikat Amal: Jasad dan Roh

Dalam khazanah tasawuf dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), salah satu aksioma paling mendasar yang ditegaskan oleh Ibnu Atha’illah al-Iskandari dalam Al-Hikam adalah:

“الأَعْمَالُ صُوَرٌ قَائِمَةٌ، وَأَرْوَاحُهَا وُجُودُ سِرِّ الإِخْلَاصِ فِيهَا”

“Amal perbuatan adalah bentuk-bentuk yang tegak berdiri, sedangkan rohnya adalah wujudnya rahasia keikhlasan yang ada di dalamnya.”

Salah satu pensyarah al hikam, Syaikh Said Ramadan al-Buthi dalam kitab syarahnya memberikan analisis struktural-teologis yang sangat tajam mengenai hikmah ini.

Beliau menjelaskan bahwa manusia sering kali tertipu oleh “kuantitas material” dari sebuah ibadah. Kita melihat shalat yang panjang, sedekah yang bernilai jutaan, atau gelar-gelar keagamaan sebagai sebuah pencapaian yang bersifat absolut. Namun, di sisi Allah, entitas amal terbagi menjadi dua dimensi: Dimensi Lahiriah (Zhahir) yang berupa gerakan fisik, ucapan, dan ritual; serta Dimensi Batiniah (Bathin) yang berupa niat, ketundukan, dan keikhlasan.

Amal tanpa keikhlasan, menurut Syaikh al-Buthi, laksana mayat yang bersolek. Secara kasat mata, ia tampak utuh, indah, bahkan megah bak gunung yang tinggi menjulang sebagaimana metafora dalam teks gambar di atas. Namun, karena ia kehilangan komponen vitalnya—yaitu ruh berupa keikhlasan—ia tidak memiliki bobot spiritual sama sekali di timbangan akhirat (Mizan). Ketika badai hari kiamat menerpa, amal yang kosong dari keikhlasan akan langsung sirna, terbang layaknya debu yang ditiup angin kencang (haba’an manshura).

gemini generated image w47ojaw47ojaw47o

2. Bahaya Penyakit Riya’ dan Sum’ah (Syirik Khafi)

Syaikh al-Buthi sering kali memperingatkan dalam ceramah dan kitab-kitabnya mengenai bahaya laten dari riya’ (pamer) dan sum’ah (mencari popularitas). Beliau mengutip hadis sahih tentang tiga golongan pertama yang diseret ke dalam api neraka: seorang alim/qari, seorang dermawan, dan seorang mujahid.

Mengapa mereka masuk neraka terlebih dahulu melampaui para pendosa biasa? Jawabannya terletak pada motif batin mereka.

  • Sang mujahid berperang agar disebut “pemberani”.
  • Sang alim mengajar agar disebut “pakar/pintar”.
  • Sang dermawan bersedekah agar disebut “pemurah”.

Syaikh al-Buthi menekankan bahwa Allah SWT adalah Zat Yang Maha Kaya dan tidak membutuhkan sekutu (Ana Aghna al-Syuraka’ ‘an al-Syirk). Ketika seseorang mencampuradukkan niat ibadahnya antara mencari rida Allah dan mencari pujian makhluk, maka Allah akan menolak seluruh amal tersebut dan menyerahkannya kepada makhluk yang ia harapkan pujiannya. Di sinilah letak relevansi kalimat beliau: “Meskipun membentuk gunung-gunung yang tinggi lagi kokoh, akan lenyap ditiup angin…” Kuantitas yang masif menjadi tidak bernilai ketika fondasi dasarnya rapuh.

Rasulullah saw pernah memberikan pesan keras tentang hal ini. Sebagaimana diriwyatkan dari Mahmud bin Labid RA, Rasulullah SAW bersabda:

“إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ”. قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: “الرِّيَاءُ، يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ: اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً؟”

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya: “Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Riya’. Allah ‘Azza wa Jalla akan berfirman kepada mereka pada hari kiamat kelak ketika manusia diberi balasan atas amal-amal mereka: ‘Pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu kalian pameri (cari pujiannya) di dunia, lalu lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka?'”

3. Keikhlasan: Akar yang Menancap Kuat (Juzur Ashilah)

Syaikh al-Buthi menggunakan metafora botani yang sangat indah: “جُذُورٍ أَصِيلَةٍ” (akar yang asli/kokoh). Hal ini mengindikasikan bahwa keikhlasan bukanlah sesuatu yang instan, melainkan sebuah proses internalisasi iman yang menghujam ke dalam lubuk hati terdalam.

Ibnu Atha’illah dalam Al-Hikam juga menyatakan:

“ادْفِنْ وُجُودَكَ فِي أَرْضِ الْخُمُولِ، فَمَا نَبَتَ مِمَّا لَمْ يُدْفَنُ لَا يَتِمُّ نَتَائِجُهُ”

“Kuburlah eksistensimu di dalam tanah ketidakterkenalan (khumul), sebab sesuatu yang tumbuh namun tidak ditanam/dikubur terlebih dahulu, buahnya tidak akan sempurna.”

Syaikh al-Buthi menjelaskan ayat dan hikmah ini dengan menjabarkan bahwa seorang mukmin harus melatih dirinya untuk beramal di kala sepi, sama persis seperti ia beramal di kala ramai. Jika intensitas ibadah seseorang meningkat drastis ketika dilihat orang lain, namun layu dan malas ketika sendirian, maka itu adalah indikator nyata bahwa akarnya belum menancap pada keikhlasan, melainkan pada pandangan mata manusia.

4. Relevansi Pemikiran Syaikh Al-Buthi di Era Modern

Sebagai ulama yang hidup di era modern dan menyaksikan pergolakan pemikiran serta transformasi sosial, Syaikh al-Buthi memahami betul tantangan keikhlasan di abad ini. Di zaman di mana “eksistensi diri” diukur dari paparan media sosial, dokumentasi amal shaleh menjadi sebuah jebakan batin yang sangat besar.

Banyak orang terjebak dalam formalisme agama—memperbanyak kemasan luar dari ketaatan agar diakui oleh komunitasnya—namun melupakan esensi pembersihan hati (tashfiyat al-qalb). Untaian kalimat beliau dalam gambar tersebut menjadi alarm keras bagi setiap Muslim: jangan sampai kita mengira telah mengumpulkan bekal akhirat yang sangat banyak, namun ternyata di hari kiamat kita datang sebagai orang yang bangkrut (muflis), karena seluruh pahala amal kita habis terbakar oleh riya’ dan kesombongan.

Kesimpulan

Nasihat dari Al-Imam Al-Syahid Dr. Said Ramadan al-Buthi ini murni merupakan sari pati dari ajaran tasawuf Sunni yang moderat dan berbasis pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Amal ibadah yang banyak adalah hal yang mulia, namun menjaga agar amal tersebut tetap murni hanya untuk Allah adalah perjuangan yang jauh lebih besar. Keikhlasan adalah satu-satunya “mata uang” yang berlaku di akhirat; tanpanya, seluruh kekayaan amal kita di dunia tidak akan bernilai sepeser pun di hadapan Allah SWT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *