Al-Qur’an adalah Kalamullah—firman Allah SWT yang diturunkan pada malam penuh kemuliaan (Lailatul Qadr). Setiap satu huruf yang kita baca mengandung 10 kebaikan yang berlipat ganda. Namun, tahukah kita bahwa memuliakan Al-Qur’an tidak hanya sebatas membacanya, tetapi juga menjaga kehormatannya baik dalam bentuk tulisan (mushaf) maupun ajaran?
Sebagaimana pesan khutbah dari KH. Abu Hasan Mubarok (Ketua Umum MUI Kab. Penajam Paser Utara):
- Perintah Menjaga Kesucian: Rasulullah SAW mengingatkan agar kita tidak menyentuh Al-Qur’an melainkan dalam keadaan suci.
- Cerminan Ketakwaan Hati: Mengagungkan dan memuliakan syiar-syiar Allah (termasuk Al-Qur’an) adalah tanda dari hati yang bertaqwa (QS. Al-Hajj: 32).
- Pentingnya Menjaga Sikap: Al-Qur’an adalah kitab yang mulia (‘Aziz). Segala bentuk pelecehan, tindakan merendahkan, atau menjadikannya bahan lelucon/objek percandaan adalah hal yang dilarang keras dan melukai kesucian agama.
Mari kita hadirkan pembelaan dan rasa cinta kepada Al-Qur’an dengan tetap mengedepankan kebijaksanaan, ketertiban, dan tidak berlebihan yang dapat membawa mafsadat.
Yuk, raih keridaan Allah dengan memuliakan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, menjaga keluarga kita, serta saling merawat keharmonisan dalam berbangsa dan bernegara. 🤲💚
Simak poin-poin lengkap dan pesan pentingnya pada naskah khutbah jumat berikut!
Menjaga & Memuliakan al Qur’an
Oleh: KH. Abu Hasan Mubarok
Ketua Umum MUI Kab. Penajam Paser Utara
الحمد لله، الحمد لله أبدعَ ما أوجدَ، وأتقنَ ما صنَعَ، وكلُّ شيءٍ لجبروته ذلَّ ولعظمته خضَعَ، سبحانه وبحمده في رحمته الرجاء، وفي عفوِه الطمعُ، وأُثنِي عليه وأشكُره؛ فكم من خيرٍ أفاضَ ومكروهٍ دفَع، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعالى في مجده وتقدَّس وفي خلقِه تفرَّد وأبدَع، وأشهد أن سيدنا ونبيَّنا محمدًا عبدُ الله ورسوله أفضلُ مُقتدًى به وأكملُ مُتَّبَع، صلَّى الله وسلَّم وبارَك عليه وعلى آله وأصحابه أهل الفضلِ والتّقَى والورَع، والتابعين ومن تبِعَهم بإحسانٍ ولنهجِ الحق لزِم واتَّبَع، وسلَّم تسليمًا كثيرًا.
أما بعد: فأُوصيكم – أيها الناس – ونفسي بتقوى الله، فاتقوا الله – رحمكم الله -؛ ﴿ ذَلِكَ يَوْمٌ مَجْمُوعٌ لَهُ النَّاسُ وَذَلِكَ يَوْمٌ مَشْهُودٌ * وَمَا نُؤَخِّرُهُ إِلَّا لِأَجَلٍ مَعْدُودٍ * يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ ﴾ [هود: 103- 105].
Jamaah sidang solat jum’at yang dimuliakan Allah swt
Al Qur’an adalah firman Allah swt, kalamullah yang diturunkan melalui perantara Malaikat Jibril kepada Rasulullah saw di malam yang penuh kemuliaan lailatul qadr/lailatul mubarokah. Berdasarkan riwayat sahabat Utsaman bin Affan RA disebutkan bahwa siapa membaca satu huruf saja dari al qur’an, maka baginya adalah 10 kebaikan dan akan dilipatgandakan.
Al qur’an baik sebagai tulisan maupun sebagai bacaan merupakan dua sisi yang tidak bisa diabaikan dan dipisah-pisah. Allah swt telah nyatakan pada surat al Waqi’ah ayat 79:
لَّا یَمَسُّهُۥۤ إِلَّا ٱلۡمُطَهَّرُونَ
Artinya: dan tidaklah menyentuhnya kecuali orang-orang yang dibersihkan.
Para mufassir memang memberikan penjelasan tentang makna ayat ini, bahwa yang dimaksud sebagai mereka yang dibersihkan adalah para malaikat. Karena posisi letak mushaf al qur’an ada di lauhil mahfuz. Ini adalah pendapat sahabat Anas, Sa’id dan Zubair. Sementara Abu al ‘Aliyah dan Ibnu Zaid menambahakn dengan para nabi dan rasul, lalu Imam al Kalbi mengatakan adalah para malaikat.
Namun demikian, Rasulullah saw sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar RA berkata:
لَا تَمَسَّ الْقُرْآنَ إِلَّا وَأَنْتَ طَاهِرٌ
Artinya: dan janganlah menyentuh al qur’an kecuali kamu suci.
Ini dituturkan oleh Imam al Qurthubi dalam tafsirnya ketika menjelaskan tentang korespondensi Rasulullah saw atas para raja-raja untuk ajakan masuk ke dalam Islam.
Di dalam surat al Hajj ayat 32, Allah swt juga berfirman:
ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوب
Artinya: dan begitulah, barangsiapa memuliakan syiar-syiar Allah, sungguh itu berasal dari hati yang bertaqwa.
Imam para mufassir, Ibnu Jarir at Thabari mengatakan bahwa Abdullah bin Abbas RA menjelaskan makna يـعـظم di sini adalah mencakup tiga kriteria, yaitu: 1) استعظامها (Isti’zāmuhā) yaitu memandangnya sebagai sesuatu yang besar. 2) استحسانها (Istihsānuhā): Menganggapnya baik / memujinya / menyukainya. 3) استسمانها (Istismānuhā): menganggapnya bernilai (menggemukkannya).
Disebutkan dalam syarah lum’atul I’tiqad bahwa imam Ali bin Abi Thalib RA mengatakan satu saja dari huruf al qur’an diingkari, maka ornag tersebut dihukumi kafir, keluar dari Islam.
Sementara itu Al-Khatib Al-Syarbini rahimahullah berkata: “Perbuatan yang menyebabkan kafir adalah perbuatan yang dilakukan dengan sengaja sebagai bentuk pelecehan terang-terangan terhadap agama, atau bentuk pengingkaran terhadapnya: seperti membuang mushaf ke tempat kotor, dan sujud kepada berhala.” Mughni Al-Muhtaj (4/ 176).
Jamaah sidang solat jum’at yang dimuliakan Allah swt
Jadi, al qur’an baik itu berupa bacaan maupun tulisan adalah sama-sama mulia dan dimuliakan Allah swt. Oleh karenanya sikap penghinaan dan tidak menghormati terhadap al qur’an merupakan bentuk penistaan terhadap al qur’an.
Imam Nawawi dalam at tibyan fi aadab hamalat al qur’an mengatakan bahwa telah menjadi kesepakatan umat Islam bahwa wajibnya menjaga mushaf dan menghormatinya. Para fuqaha syafi’iyah berpendapat bahwa bagi seorang Muslim yang melemparkan mushaf al qur’an ke tempat yang kotor, maka yang telah melempar tersebut nyata kakafirannya.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam fatwanya nomor 21 tahun 2023 tentang hukum dan pedoman penanganan mushfa yang rusak atau tidak layak guna menjelaskan bahwa hukum memuliakan musyaf adalah wajib, dan oleh karenanya penanganannya pun diistimewakan.
Fenomena tentang penghinaan terhadap al qur’an dalam bentuk-bentuknya sesungguhnya terjadi pada masa-masa yang lama, dan reaksi umat Islam begitu luar biasa terhadap penjagaan al qur’an ini.
Jamaah sidang solat jum’at yang dimuliakan Allah swt
Sungguh amat disayangkan bahwa fenomena penistaan agama terjadi kembali. Al qur’an diposisikan sebagai alat tawar menawar untuk sebotol minuman haram. Ini adalah bentuk penghinaan yang amat kasar.
Sepintas memang, mungkin bagi sebagian orang ini adalah suatu hal percandaan. Namun, al qur’an bukanlah objek yang untuk dipercandakan. Allah swt telah melarang kita merendahkan menghina ajaran dan agama lain. Perhatian firman-Nya surat al An’am ayat 108:
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ
Artinya: dan janganlah kalian menghina orang-orang yang mengajak kepada selain Allah, karena nanti mereka akan menuduh Allah secara bermusuhan dan tanpa pengetahuan.
Perhatikan firman-Nya surat Fushilat ayat 41:
وَإِنَّهُۥ لَكِتَـٰبٌ عَزِیزࣱ
Artinya: dan sungguh al qur’an adalah kitab yang kuat.
Imam Ibnu Jarir at Thobari mengatakan bahwa al qur’an adalah kitab Allah yang kuat, karena Allah menguatkannya dari segala pelemahan setiap orang yang menghendaki perubahan, penyimpangan, dan penyelewengan, baik dari kalangan manusia, jin, maupun syaitan.
Jadi ketika umat Islam hadir dan berdiri untuk membela al qur’an, maka itu semata-mata adalah dorongan murni fitrah dari dirinya yang telah digerakan oleh Allah swt. Namun, dalam kondisi ini, jangan sampai sikap pembelaan itu terjadi secara berlebih-lebihan. Karena hal tersebut juga dapat menyebabkan mafsadat yang lebih besar.
Jamaah sidang solat jum’at yang dimuliakan Allah swt
Oleh karenanya, mewakili umat Islam, dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengharapkan kepada aparat penegak hukum, apabila terjadi hal-hal yang sifatnya penghinaan dan perendahan terhadap kemuliaan Rasulullah saw, kemuliaan al qur’an untuk segera ditindak dengan cepat dan tegas.
Mari lindungi kemuliaan agama ini dengan segenap jiwa dan raga, lindungi negara dengan penuh cinta dan keberagaman, lindungai keluarga dengan mengharap ridha Allah swt.
بارك الله لى ولكم فى القرآن الكريم ونفعنى وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم، أقول قولى هذا واستغفر الله العظيم لى ولكم، استغفروه إنه هو الغفور الرحيم
#MenjagaAlQuran #MemuliakanAlQuran #MUI #KhotbahJumat #DakwahMediaSosial #CintaAlQuran #IslamRahmatanLilAlamin