Oleh: admin muipenajam.or.id
“كُلَّمَا زَادَ عِلْمُكَ، اخْتَفَتْ مِنْكَ الرَّغْبَةُ فِي الجِدَالِ؛ وَكُلَّمَا نَضِجَ عَقْلُكَ، ظَهَرَ فِيكَ خُلُقُ التَّغَافُلِ.
Setiap kali ilmumu bertambah, maka akan hilang darimu keinginan untuk berdebat; dan setiap kali akalmu semakin matang (dewasa), maka akan muncul dalam dirimu akhlak taghaful (pura-pura tidak tahu demi kebaikan).”
Dalam mengarungi interaksi sosial, tingkat kedalaman ilmu dan kematangan emosional seseorang tidak diukur dari seberapa keras ia bersuara atau seberapa sering ia memenangkan perdebatan. Sebaliknya, indikator utama dari kualitas intelektual dan spiritual seorang muslim justru tercermin dari kemampuannya dalam menahan diri. Sebuah ungkapan bijak (aqwal ma’tsurah) menegaskan bahwa bertambahnya ilmu akan mengikis nafsu untuk berdebat, sementara matangnya akal akan melahirkan sifat at-taghaful (sengaja mengabaikan kekeliruan kecil orang lain demi menjaga keharmonisan).
Hubungan Antara Kelapangan Ilmu dan Hilangnya Nafsu Berdebat
Seseorang yang baru menyelami satu atau dua lembar halaman ilmu sering kali dihinggapi penyakit ujub (bangga diri) dan merasa paling tahu. Akibatnya, muncul dorongan yang kuat di dalam hatinya untuk berdebat (al-jidal) demi membuktikan eksistensi dan superioritas intelektualnya kepada orang lain.
Namun, ketika ia terus konsisten belajar dan ilmunya semakin mendalam, ia akan sampai pada kesadaran hakiki bahwa di atas langit masih ada langit. Ilmu yang sangat luas membuat seseorang memahami adanya ruang perbedaan pendapat yang sah (ikhtilaf). Ia menyadari bahwa memenangkan perdebatan kusir sama sekali tidak mendatangkan kemaslahatan, melainkan hanya akan mengeraskan hati, memicu dendam, serta merusak tali persaudaraan (ukhuwah).
Rasulullah SAW telah memberikan jaminan yang sangat besar bagi orang-orang yang mampu menahan egonya dari berdebat. Beliau bersabda: “Aku menjamin sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan sekalipun ia berada di pihak yang benar.” (HR. Abu Dawud). Keinginan berdebat yang hilang adalah tanda bahwa ilmu tersebut telah meresap ke dalam jiwa dan membuahkan ketundukan emosional yang matang.
Mengenal Akhlak At-Taghaful: Puncaknya Kematangan Akal
Dimensi kedua dari ketenangan jiwa adalah munculnya karakter at-taghaful. Secara bahasa, taghaful berarti berpura-pura tidak tahu, acuh, atau menutup mata dari kesalahan orang lain yang sebenarnya kita ketahui. Sifat ini sama sekali berbeda dengan kelalaian (ghaflah) yang lahir dari ketidaktahuan atau kelemahan. Taghaful adalah sebuah tindakan sadar yang dipilih oleh orang-orang berakal besar.
Ketika akal seseorang telah matang, ia tidak akan lagi sibuk mencari-cari kesalahan kecil sesamanya, tidak mudah tersinggung oleh lisan orang lain yang belum paham, dan memilih untuk mengabaikan hal-hal sepele yang tidak mendatangkan manfaat ukhrawi. Seseorang yang mempraktikkan taghaful lebih memilih menjaga perasaan saudaranya dan memelihara kedamaian sosial daripada memuaskan ego keakuannya untuk selalu mengoreksi dan menyalahkan orang lain.
Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah menegaskan pentingnya akhlak mulia ini dengan mengatakan: “Akhlak mulia itu tidak pernah lepas dari sikap taghaful (pura-pura tidak tahu).” Senada dengan hal itu, Imam Ahmad bin Hambal juga menyatakan: “Sembilan persepuluh (90%) dari akhlak yang baik itu terletak pada sikap taghaful.”
Kesimpulan
Pada akhirnya, perjalanan menuntut ilmu dan mendewasakan akal harus bermuara pada perbaikan karakter diri (tazkiyatun nafs). Menghindari perdebatan yang sia-sia serta menghidupkan sikap taghaful dalam kehidupan sehari-hari adalah seni tertinggi dalam berinteraksi dengan sesama manusia. Melalui dua pilar ini, seorang muslim tidak hanya mampu menjaga martabat dirinya sendiri, tetapi juga menjadi agen keteduhan yang merawat keharmonisan di tengah-tengah masyarakat.
Referensi Ilmiah dan Sumber Kutipan
- Hadits Nabi SAW tentang Keutamaan Meninggalkan Debat: * Sunan Abi Dawud, Kitab al-Adab, Bab Fi al-Husni, No. Hadits 4800.
- Kutipan Ulama Salaf tentang At-Taghaful:
- Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah, pembahasan mengenai biografi ulama-ulama pembawa keteduhan akhlak.
- Ibnu Muflih Al-Maqdisi, Al-Adab Asy-Syar’iyyah wal Minah Al-Mar’iyyah, Juz 1, halaman 210 (Pembahasan mengenai keutamaan sifat at-taghaful menurut pandangan Imam Ahmad bin Hambal dan Hasan Al-Bashri).
- Metodologi Penyucian Jiwa (Tazkiyatun Nafs):
- Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Kitab Afat al-Lisan (Bahaya Lidah: Bab mengenai celaan terhadap perdebatan dan permusuhan lisan).