Harlah Ke-80 Muslimat NU: Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, dan Meneduhkan Peradaban

PENAJAM – Memasuki usia ke-80 tahun, Muslimat NU kian mempertegas posisinya sebagai penopang bangsa dengan anggota lebih dari 32 juta orang. Mengusung tema utama “Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, dan Meneguhkan Peradaban”, organisasi perempuan terbesar di Indonesia ini merefleksikan khidmatnya melalui serangkaian aksi nyata di akar rumput.

Tiga Peran Strategis dan Sinergi Pemerintah

Ketua Umum PP Muslimat NU, Arifah Choiri Fauzi, menekankan tiga peran krusial Muslimat NU ke depan: menyiapkan generasi penerus berkualitas, menjadi garda terdepan pelindung perempuan dan anak, serta memperkuat nilai Islam moderat di masyarakat.

Muslimat NU juga terus memperkuat posisi sebagai mitra strategis pemerintah, terutama dalam upaya penurunan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak serta peningkatan kualitas keluarga. Fokus ini menjadi bagian dari misi besar menjaga Islam rahmatan lil alamin tetap hidup di tengah masyarakat.

whatsapp image 2026 04 30 at 20.44.42

Ketua PC MUslimat NU, Dra. Hj. Jumaisyah Idris, MM dalam sambutannya mengatakan bahwa Muslimat NU di Kabupaten Penajam Paser Utara beberapa tahun terakhir telah ikut aktif membangun konsolidasi sampai akar rumput, ranting dan ikut menjaga akar ahlussunal wal jamaah an nahdhiyah.

“Muslimat NU Kab. Penajam Paser Utara harus tetap semangat dan aktif menjaga NU dan masyarakat dan aktif serta memajukan ekonomi umat” ujarnya.

Khidmat Nyata di Akar Rumput

Di tingkat daerah, geliat khidmat Muslimat NU tampak sangat militan. Dalam tiga bulan terakhir, khususnya selama bulan Ramadan, Pengurus Cabang (PC) hingga Ranting telah bergerak masif melalui berbagai kegiatan:

  • Konsolidasi Ruhiyah: Menghidupkan majelis taklim untuk menguatkan akidah Aswaja An-Nahdliyah dalam keluarga.
  • Literasi Al-Qur’an: Gerakan Khatmil Qur’an serentak di masjid, mushola, hingga rumah-rumah anggota.
  • Sosial dan Kemanusiaan: Safari Ramadan, pembagian takjil, paket sembako, serta santunan bagi yatim dan dhuafa sebagai wujud kehadiran Muslimat meringankan beban umat.
  • Rawat Tradisi: Melakukan Ta’lim dan Ta’zim kepada para alim ulama dan nyai sepuh guna menjaga sanad keberkahan organisasi.

Menuju Tantangan Global

Harlah ke-80 ini bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan momentum muhasabah di tengah tantangan global yang semakin kompleks. Digitalisasi, penanganan stunting, hingga penguatan ekonomi jamaah menjadi agenda mendesak yang butuh dikawal bersama.

Kader Muslimat NU diingatkan kembali pada peran sentralnya sebagai Madrasatul Ula (sekolah pertama). “Dari rahim Muslimat lahir generasi NU masa depan,” pesan yang kuat untuk terus menjaga ketahanan keluarga sebagai pondasi peradaban. Dengan merapatkan barisan dari tingkat Cabang hingga Ranting, Muslimat NU berkomitmen untuk terus bekerja nyata, bukan sekadar bicara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *