Berprasangka Baik Kepada Allah

Nabi kita, semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya, bersabda dalam riwayat dari Tuhan Yang Maha Mulia:

«أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي» [رواه البخاري ومسلم].

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku terhadap-Ku” [Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim].

Jika kamu berprasangka baik, maka Allah SWT akan mengabulkanmu sesuai dengan prasangka baikmu. Jika kamu berprasangka buruk, maka janganlah menyalahkan siapa pun kecuali dirimu sendiri.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata: “Demi Dzat yang tiada Tuhan selain Dia, tidaklah seorang hamba mukmin diberi sesuatu yang lebih baik daripada berprasangka baik kepada Allah Azza wa Jalla. Dan demi Dzat yang tiada Tuhan selain Dia, tidaklah seorang hamba berprasangka baik kepada Allah Azza wa Jalla melainkan Allah Azza wa Jalla akan memberinya sesuai prasangkanya, karena kebaikan ada di tangan-Nya.”

Berprasangka baik kepada Allah menuntut kepercayaan pada apa yang ada di tangan Allah SWT, dan menuntut tawakal yang baik kepada-Nya. Allah SWT mencintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya, dan menuntut penyerahan diri serta kerelaan terhadap ketetapan dan takdir-Nya dalam diri kita, serta menuntut berlindung kepada-Nya dengan doa; karena doa adalah ibadah.

Lawan dari berprasangka baik kepada Allah adalah putus asa dari pahala dan janji Allah. Dikatakan: keputusasaan membunuh pemiliknya, maka dalam berprasangka baik kepada Allah terdapat ketenangan hati.

Ibnu Hajar berkata: “Dan sesungguhnya keputusasaan dari rahmat Allah termasuk dosa besar; karena hal itu menuntut pendustaan terhadap nash-nash yang pasti. Kemudian keputusasaan ini terkadang disertai dengan keadaan yang lebih parah darinya, yaitu tekad untuk tidak mendapatkan rahmat baginya, dan inilah keputusasaan, sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh konteks ayat: {Dan jika keburukan menimpanya, maka ia putus asa dan sangat putus asa} [Fushshilat: 49]. Dan terkadang disertai dengan keyakinan bahwa ia tidak akan mendapatkan rahmat baginya, ia melihat bahwa azabnya akan diperberat seperti orang-orang kafir, dan inilah yang dimaksud dengan berprasangka buruk kepada Allah Ta’ala” [Fathul Bari].

Maka wajib bagi seorang mukmin untuk berprasangka baik kepada Allah Ta’ala, dan yang paling wajib untuk berprasangka baik kepada Allah adalah ketika ditimpa musibah dan ketika kematian.

Al-Hattab berkata: Dianjurkan bagi orang yang sedang sakaratul maut untuk berprasangka baik kepada Allah Ta’ala.

Berprasangka baik kepada Allah, meskipun ditekankan saat kematian dan sakit, namun seharusnya setiap orang yang mukallaf senantiasa berprasangka baik kepada Allah.

Dalam Shahih Muslim: “Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal dunia melainkan ia berprasangka baik kepada Allah.”

sumber: FB. Syaikh Dr. Ali Jum’at

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *